Monday, July 15, 2019

Berita Tentang Sabu, DE INDISCHE COURANT 20 APRIL 1937

DE INDISCHE COURANT 20 APRIL 1937

Savoe, het Paradijs van het Oosten! We stoomen door de Savoeneche, het diepe bekken tusschen Flores en Timor. De vele eilanden, welke haar omgrenzen, schijnen bergtoppen, reikend uit een in de wateren verzonken atlantis. In het Noorden verheffen zich nog werkende vulkanen.

Tusschen Soemba en Rotti duikt Savoe uit de golven van den Indischen Oceaan. Het is maar een klein stukje grond, ongeveer 540 km2.

De hoogste toppen komen niet verder dan 300 meter. Heuvelig en schier kaal, maakt het uit zee gezien, weinig indruk. Wanneer de “Van Riebeeck" een eind uit de kust ten anker is gegaan voor Seba en de sloep ons naar den wal brengt, zien we hoe wallen als van burchten oprijzen uit den bodem.

Seba is een klein. Inheemsch plaatsje. De woningen maken een goeden indruk. Ter zijde van den weg ligt een ruime pasanggrahan. We vonden er weinig aanlokkelijks. Zij scheen verlaten. Er stond nog een bed zonder klamboe. Wie zou ook on dit eiland van paarden en vee een boot overblijven?

En toch kan het de moeite loonen dit eiland rustig in oogenschouw te nemen.

Bunga Palem dari Sabu

Buku kecil ini dibuat berdasarkan empat artikel yang dimuat di dalam Jurnal Wastra, majalah Himpunan Wastraprema, Jakarta yang terbit dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris  (nomor 11 bulan Desember 2007; no 12 bulan Juni 2008; no. 13 bulan Desember 2008; dan no.14 bulan Juni 2009). Ucapan terima kasih ingin saya tujukan kepada Mariah Waworuntu, editor utama Jurnal Wastra bukan saja untuk bantuan dan panduan yang telah diberikan, tetapi juga untuk bantuannya menerjemahkan naskah dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.
Tesis doktor saya berhasil meraih Penghargaan Wang Gungwu dari Universitas Nasional Singapura. Penghargaan ini telah membantu membiayai penerbitan buku ini. Sungguh menggetarkan hati, saya dapat menyumbang  kembali dalam bentuk buku kecil ini, pengetahuan para penenun dan tetua adat yang telah berbagi ilmunya dengan saya selama lebih dari limabelas tahun. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada semua pihak yang telah membantu mengumpulkan informasi, sehingga pengetahuan ini terjamin kelestariannya bagi generasi penerus. Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya saya ingin haturkan kepada Bapak Elo Huma Lado dalam perannya sebagai nara sumber, fasilitator, asisten dan penerjemah di lapangan selama kurun waktu ini.
Masyarakat Sabu diklassifikasikan sebagai masyarakat bilineal dan menganal kelompok-kelompok keturunan patrilineal atau disebut juga clan atau suku, dan dua garis matrilineal (moieties) atau hubi dari garis keturunan dua kakak-beradaik perempuan. Hubi berarti ‘bunga pohon palem’. Tekstil merupakan bagian penting dari kehidupan  masyarakat Sabu. Tekstil Sabu berupa tenun ikat yang ditenun dengan teknik ikat dan celup untuk memperoleh pola tertentu. Sejak permulaan pekerjaan utama perempuan sehingga perempuan memainkan peran utama dalam masyarakat Sabu, yang khususnya menunjuk pada garis ibu. Tidak mungkin mengerti tenunan pulau Sabu tampa memahami struktur social unik dari pulau ini.
Menurut silsilah mantra pulau Sabu yang  bersifat rahasia dan kramat, masyarakat terbagi dalam dua kelompok atau moieties (dari kata Prancis ‘moitié’ atau ‘setengah’) yang merupakan keturunan dua kakak-beradik perempuan bernama Muji Babo dan Lou Babo. Pembagian ini sudah ada jauh sebelum terbentuk clan atau suku (laki-laki). Menurut sumber kollektif, Wunu Babo, kakak laki-laki mereka memberikan kepada kedua kakak-beradik ini masing-masing setangkai buah pinang (areca) besar dan kecil. Jadi pulau Sabu pada mulanya memiliki struktur masyarakat matrilineal (bukan matriarkat!), di mana para wanita bersama kakak laki-laki tertua berperan dalam mengatur organisasi sosial masyarakat. Nama dari kedua kelompok diambil dari kedua tangkai buah pohon palem, yaitu hubi aeatau ‘Bunga palem besar’ dan hubi iki atau ‘Bunga palem kecil’. Perbedaan antara besar atau kecilnya tangkai tidak menunjuk pada status dalam hierarki atau kelas tertentu, tetapi hanya pada ranking kelahiran kedua kakak-beradik. Ranking kelahiran membentuk suatu tatanan siapa yang lahir lebih dadulu dan siapa lahir belakangan. Tatanan ini merupakan salah satu ciri organisasi masyarakat di budaya Asia Tenggara. Hal ini dapat dilihat dari cara orang menyapa di dalam bermasyarakat di Indonesia dengan menggunakan kata ‘kakak’ atau ‘abang’ dan ‘adik’.
Pembagian masyarakat dalam dua kelompok perempuan diturunkan melalui sumber kollektif dalam bentuk  ceritera yang mengemukakan tentang sebuah perlombaan menenun yang diadakan antara kedua kakak-adik yang beruba menjadi pertengkaran yang hebat. Akibatnya, perkawinan antar dua kelompok dilarang sampai dua atau tiga generasi yang lalu, ketika penduduk Sabu mulai beralih ke agama Kristen. Demikianlah tenunan memainkan peranan yang penting dan merupakan kartu tanda penduduk kuno sebagai pendahulu dari kartu identitas dewasa ini. Tradisi ini sudah ada sejak berabad yang lalu dan masih dikenal antara penikut kepercayaan kuno Jingi tiu yang sekarang terancam akan punah dalam satu atau dua generasi ini.
Source; Genevieveduggan

Savu: History And Oral Tradition On An Island Of Indonesia


The book focuses on the historical trajectories of Savu, an island in the Nusa Tenggara Timur province, eastern Indonesia. While Savu is a relatively small island, aspects of its society, as well as this study’s blend of anthropology and historical method, makes this book of fundamental relevance to the ongoing comparative examination of Austronesian-speaking populations from Madagascar to Hawaii and from Taiwan to Timor. 

This book brings together Duggan’s detailed understanding of Savunese society and genealogies with Hägerdal’s deep knowledge of the Dutch and Portuguese archives to understand the overlap between these perspectives on Savu’s past. The text discusses the precolonial period up to the sixteenth century, and then examines how early-colonial encounters with the Portuguese and Dutch (VOC) changed the system of governance. In the nineteenth century, the Savunese embarked on minor colonial enterprises in Timor and Sumba, and were still largely autonomous vis-à-vis the colonial state. Protestant missionaries gained foothold after 1870, though Christianization was a slow process. Colonial rule via a Dutch-appointed raja was introduced in the early twentieth century. The text follows the fate of Savu during the struggle for independence and the postcolonial era, discussing the dilemmas of modernization and the resilience of the unique local culture.

Detail; Press Chicago